Open top menu
Selasa, 25 Maret 2014

Sumber

Memilih Atau Golput? - Belakangan, marak dibicarakan kembali mengenai Golput atau golongan putih. Golput identik dengan kelompok masyarakat yang memutuskan untuk tidak menggunakan hak suaranya dalam Pemilu. Dalam tahun-tahun terakhir, jumlah Golput di Indonesia semakin tinggi. Paling tidak hal itu bisa dilihat dari angka partisipasi dalam pemilihan kepala daerah yang merosot tajam.

Begitu mengkhawatirkannya jumlah Golput ini, sejumlah pihak merasa perlu mengusulkan satu tindakan khusus. Seorang politisi di Senayan bahkan mengusulkan agar rakyat yang Golput bisa dipidanakan. Usulan semacam ini meskipun berlebihan, tetapi bisa dimaklumi karena Golput memang cenderung mematikan demokrasi secara pelan-pelan.


Sayangnya, pilihan pemidanaan untuk rakyat yang memilih Golput itu tidak bisa dilakukan. Tidak ada satupun undang-undang di Indonesia yang memungkinkan hal itu dilakukan. Jika mau mengambil kebijakan semacam itu, politisi Senayan tentu saja harus merubah undang-undang yang ada terlebih dahulu.


Australia adalah salah satu negara yang mewajibkan warganya untuk menunaikan kewajiban politik dalam Pemilu. Pada sistem semacam ini, memilih wakil rakyat yang akan duduk di parlemen dianggap sebagai sebuah kewajiban. Karena itu, undang-undang di Australia mewajibkan seluruh warganya memilih. Ada konsekuensi yang harus ditanggung apabila ada yang memutuskan untuk Golput. Di Indonesia, memilih wakil rakyat dalam Pemilu ataupun kepala daerah dalam Pilkada masih dinilai sebagai hak. Karena itu sebuah hak, rakyat boleh menggunakannya ataupun tidak.


Menurut hemat penulis, sebenarnya dalam jangka pendek ini fenomena Golput memang sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Semua ini berpangkal dari kondisi riil di Indonesia, dimana rakyat mengalami penurunan kepercayaan luar biasa terhadap sistem politik dan para politisi sendiri. Rakyat menilai, politikus tidak bisa dipercaya. Rakyat meyakini, memilih mereka dalam Pemilu atau Pilkada adalah sebuah kesia-siaan. Karena itu, tidak memilih atau Golput pada dasarnya adalah juga sebuah sikap politik.


Kita harus bisa memahami kondisi tersebut. Penurunan kepercayaan publik terhadap sistem politik kita memang tidak terhindarkan. Salah satu penyebabnya tentu saja adalah gunung es kasus korupsi, terutama yang melanda para politisi. Setiap hari rakyat disuguhi kenyataan bahwa orang-orang yang lima tahun lalu mereka pilih, ternyata menyia-nyiakan kepercayaan itu dan justru menyakiti hati rakyat dengan melakukan korupsi.


Karena itu, langkah awal untuk mengatasi Golput sebenarnya adalah mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap sistem politik kita. Rakyat harus diyakinkan bahwa partisipasi mereka sebagai pemilih bukanlah sebuah kesia-siaan. Caranya antara lain dengan penegakan hukum. Vonis berat untuk setiap koruptor dan jika memungkinkan, koruptor juga harus dimiskinkan. Penegakan hukum terutama bagi para politisi akan membuat rakyat percaya bahwa persoalannya bukan memilih atau tidak memilih, tetapi bahwa setiap pilihan harus disertai dengan upaya pengawasan dan sanksi hukum atas kesalahan.


Rakyat harus sadar bahwa jika Golput terus naik angkanya, maka bukan tidak mungkin yang terpilih justru politisi-politisi busuk. Dengan memilih, paling tidak rakyat bisa menaruh kepercayaan kepada calon yang potensi korupsinya paling kecil. Jika memutuskan untuk Golput, maka bukan tidak mungkin kursi akan jatuh ke politisi yang tidak memiliki kredibilitas sama sekali.


Karena itu, sebaiknya memang jangan Golput. Beri kesempatan kepada calon legislatif baru yang tidak punya sejarah korupsi.


Nah, semoga dengan artikel ini bisa memberikan sedikit inspirasi pada agan semua. Hak memilih ada ditangan anda sendiri. Pilihlah dengan bijak. Bukan karena embel-embel uang atau pun karena taburan janji yang akhirnya tak kesampaian. 

Sumber: Bambangsudrajat.com
http://bambangsudradjat.com/?p=375
Different Themes
Written by Agus Benny Kurniawan

Seorang pemuda lajang asal kota kupang lontong, Sidoarjo. Bekerja sebagai seorang freelancer dan konveksi. Info lebih lanjut silahkan kunjungi sosmed pribadinya. Twitter dan Facebook.

0 komentar